banner

Cerpen islami Jilid 2: Keajaiban Istighfar

Cerpen islami Jilid 2: Keajaiban Istighfar

Kreasi Lirik - Rizal adalah seorang pemuda yang hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan di sebuah gubuk reyot di pinggiran kota. Ayahnya telah meninggal dunia sejak ia masih kecil, sehingga ia harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya dan ibunya.

Rizal bekerja sebagai buruh harian di sebuah pabrik. Ia harus bangun pagi-pagi sekali untuk berangkat kerja dan pulang larut malam dengan tubuh yang lelah dan kotor. Ia hanya mendapatkan upah yang sangat sedikit, tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ia sering merasa putus asa dan iri melihat orang-orang yang hidup lebih baik darinya.

Suatu hari, ketika ia sedang berjalan pulang dari pabrik, ia melihat sebuah mobil mewah yang berhenti di depan sebuah toko. Dari dalam mobil itu turun seorang pria yang tampan dan berpakaian rapi. Pria itu masuk ke toko dan keluar dengan membawa beberapa kantong belanjaan. Rizal tidak bisa menahan rasa dengkinya. Ia berpikir, "Mengapa ada orang yang begitu kaya dan serba berkecukupan, sementara aku mengalami hidup seperti ini? Dimana letak keadilan Tuhan?"

Rizal terus mengikuti pria itu dengan pandangan penuh kebencian. Ia ingin tahu siapa pria itu dan apa yang membuatnya begitu beruntung. Ia mengira pria itu pasti seorang pengusaha atau pejabat yang korup. Ia berharap pria itu mendapat musibah atau celaka.

Tanpa disadari, Rizal telah mengikuti pria itu sampai ke sebuah masjid besar yang indah. Pria itu memarkir mobilnya di halaman masjid dan masuk ke dalam. Rizal merasa heran. Ia bertanya-tanya, "Apa yang dilakukan orang kaya itu di masjid? Apakah ia mau sholat atau bersedekah?"

Rizal penasaran dan ingin tahu lebih banyak tentang pria itu. Ia pun mengendap-endap masuk ke masjid dan mencari-cari pria itu. Ia melihat pria itu duduk di sudut masjid dengan wajah yang tenang dan khusyuk. Di depannya ada sebuah tas hitam yang terlihat berat.

Rizal mendekati pria itu dengan hati-hati. Ia ingin melihat apa isi tas hitam itu. Mungkin saja ada uang atau barang berharga di dalamnya. Rizal berpikir, "Kalau aku bisa mengambil tas itu, aku akan menjadi kaya raya dan serba berkecukupan seperti dia."

Rizal mencoba meraih tas hitam itu tanpa diketahui oleh pria itu. Namun, ketika tangannya hampir menyentuh tas itu, tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang menusuk-nusuk dadanya. Ia merintih kesakitan dan jatuh terduduk di lantai.

Pria itu menoleh dan melihat Rizal yang tergeletak dengan wajah pucat. Ia segera bangkit dan mendekati Rizal. Ia bertanya dengan nada suara yang lembut, "Adakah sesuatu terjadi padamu, nak? Apakah kamu sakit?"

Rizal tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menatap pria itu dengan mata nanar. Ia merasa bersalah karena telah mencoba mencuri tas milik pria itu.

Pria itu mengambil tas hitamnya dan membukanya. Di dalamnya ada sebuah kotak kayu yang berisi al-Quran dan sejumlah uang tunai. 

Pria itu berkata, "Ini adalah tas amanah yang aku bawa dari rumah. Di dalamnya ada al-Quran yang aku baca setiap hari dan uang yang aku sedekahkan untuk fakir miskin. Aku tidak pernah menggunakannya untuk hal-hal yang sia-sia atau haram. Aku bersyukur kepada Allah atas rezeki yang aku dapatkan dari usahaku yang halal dan berkah."

Rizal terkejut mendengar penjelasan pria itu. Ia merasa malu dan menyesal karena telah salah sangka terhadap pria itu. Ia berpikir, "Aku telah berbuat dosa besar. Aku telah mencoba mencuri tas yang berisi al-Quran dan sedekah. Aku telah menzalimi diriku sendiri."

Rizal menangis dan memohon maaf kepada pria itu. Ia berkata, "Maafkan aku, pak. Aku tidak tahu kalau tas itu berisi al-Quran dan sedekah. Aku hanya iri melihat kekayaan dan kebahagiaanmu. Aku hidup dalam kemiskinan dan kesulitan. Aku tidak punya apa-apa selain ibu yang sakit-sakitan."

Pria itu tersenyum dan mengusap kepala Rizal. Ia berkata, "Tidak apa-apa, nak. Aku memaafkanmu. Aku mengerti perasaanmu. Aku juga pernah mengalami masa-masa sulit seperti kamu. Aku juga pernah hidup dalam kemiskinan dan kesedihan."

Rizal terkejut lagi. Ia bertanya, "Benarkah, pak? Bagaimana ceritanya?"

Pria itu berkata, "Dulu, aku adalah seorang pemabuk dan penjudi. Aku menghabiskan uangku untuk hal-hal yang haram dan sia-sia. Aku tidak peduli dengan keluargaku yang menderita karena ulahku. Aku hanya mengejar kesenangan dunia tanpa memikirkan akhirat."

"Suatu hari, aku mendapat musibah yang membuat hidupku hancur. Aku kehilangan semua hartaku karena kalah judi. Aku ditagih hutang oleh rentenir yang mengancam akan membunuhku jika tidak segera membayar. Aku tidak punya tempat untuk berlindung atau orang untuk meminta tolong."

"Aku merasa putus asa dan ingin bunuh diri. Aku merasa tidak ada lagi harapan hidup bagi diriku. Namun, sebelum aku melakukannya, aku mendengar suara adzan dari sebuah masjid dekat sana. Suara itu begitu merdu dan menyentuh hatiku."

"Aku merasa ada sesuatu yang menarikku untuk pergi ke masjid itu. Aku pun mengikuti suara adzan itu dan masuk ke masjid itu. Di sana, aku melihat banyak orang yang sedang sholat dengan khusyuk dan tenang. Aku merasa iri dengan mereka."

"Aku ingin sholat seperti mereka, tapi aku tidak tahu caranya. Apakah aku masih pantas untuk melaksanakan sholat karena sebelumnya telah banyak dosa yang kulakukan. Aku hanya bisa duduk di pojok masjid dengan menunduk malu."

"Tiba-tiba, seorang kakek tua datang menghampiriku. Ia menyapaku dengan ramah dan bertanya apa yang membuatku datang ke masjid itu. Aku pun menceritakan semua masalah dan kesulitanku kepada kakek itu."

"Kakek itu mendengarkan dengan sabar dan penuh perhatian. Ia berkata, 'Nak, jangan bersedih atau putus asa. Allah masih sayang padamu. Allah masih memberimu kesempatan untuk bertaubat dan kembali ke jalan-Nya.'"

Ingatlah Allah berfirman:

Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tidak ada yang berputus asa dari rahmat Allah, kecuali kaum yang kafir.” (QS. Yusuf: 87)

"'Bagaimana caranya, pak?' tanyaku dengan harap-harap cemas."

"'Caranya mudah, nak,' kata kakek itu sambil tersenyum. 'Cukup dengan istighfar.'"

"'Istighfar? Apa itu istighfar?' tanyaku dengan bingung."

"'Istighfar adalah perwujudan permohonan ampun kita kepada Allah atas segala dosa dan kesalahan yang telah dilakukan. Istighfar adalah pintu taubat yang selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin kembali ke jalan Allah. Istighfar adalah obat mujarab untuk menghapus dosa dan mendatangkan rezeki.'"

Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah kalian meminta ampun kepada Rabb kalian, dan bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan memberikan kenikmatan yang baik (berupa surga) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan.” (QS. Hud: 3)

"'Bagaimana cara istighfar, pak?' tanyaku dengan penasaran."

"'Caranya mudah, nak. Cukup dengan mengucapkan kalimat 'Astaghfirullah al-'adzim' sebanyak-banyaknya dengan hati yang ikhlas dan menyesal. Ucapkanlah kalimat itu setiap saat, di mana saja, dan dalam keadaan apa saja. Insya Allah, Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memberimu kemudahan dalam urusanmu.'"

"Aku merasa tertarik dengan penjelasan kakek itu. Aku pun mencoba mengucapkan kalimat 'Astaghfirullah al-'adzim' dengan hati yang ikhlas dan menyesal. Aku merasakan sesuatu yang berbeda di dalam diriku. Aku merasakan ketenangan dan kedamaian yang belum pernah kurasakan sebelumnya."

"Kakek itu melihat perubahan pada wajahku. Ia berkata, 'Alhamdulillah, nak. Aku senang melihatmu sudah mulai istighfar. Istighfarlah terus-menerus, jangan berhenti. Istighfar akan membawamu ke jalan yang lurus dan bahagia.'"

"Kakek itu kemudian mengajakku untuk sholat bersamanya. Ia mengajarkan aku cara sholat yang benar dan bacaan-bacaannya. Aku pun mengikuti kakek itu dengan penuh khusyuk. Aku merasakan keindahan sholat yang belum pernah kurasakan sebelumnya."

"Setelah sholat, kakek itu memberiku sebuah al-Quran. Ia berkata, 'Ini adalah hadiah untukmu, nak. Bacalah al-Quran ini setiap hari. Al-Quran adalah petunjuk dan cahaya bagi orang-orang yang beriman. Al-Quran akan memberimu hikmah dan ilmu yang bermanfaat.'"

"Aku menerima al-Quran itu dengan gembira. Aku berterima kasih kepada kakek itu atas semua bantuan dan nasihatnya. Aku berkata, 'Terima kasih banyak, pak. Anda telah menyelamatkan hidupku. Anda telah membawa aku ke jalan Allah.'"

"Kakek itu menyunggingkan senyum diwajahnya sambil berkata, 'Janganlah kamu berterima kasih padaku, nak. Berterima kasihlah kepada Allah yang telah memberimu hidayah dan rahmat-Nya. Aku hanya seorang hamba Allah yang ingin berbuat baik kepada sesama.'"

"Kakek itu kemudian pamit untuk pulang. Ia berkata, 'Nak, ingatlah selalu untuk istighfar, sholat, dan membaca al-Quran. Kamu jangan lupa juga untuk menyedekahkan hartamu kepada orang-orang yang membutuhkannya. Insya Allah, Allah akan memberimu keberkahan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.'"

Allah Swt. berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

"Akhirnya, aku mengucapkan salam kepada kakek tersebut dan berjanji untuk mendengarkan dan mengikuti wejangannya. Aku merasa sangat bersyukur kepada Allah atas pertemuan ini. Aku merasa hidupku telah berubah menjadi lebih baik."

"Sejak pertemuan hari itu, aku mulai rajin istighfar, melaksanakan sholat, dan membaca al-Quran. Aku juga mulai bersedekah dari uang yang aku dapatkan dari bekerja sebagai tukang ojek online. Aku juga menghentikan kebiasaan minum-minuman keras dan juga berjudi. Aku menjauhi semua hal yang haram dan sia-sia."

"Alhamdulillah, Allah memberiku banyak kemudahan dan rezeki dari jalan-Nya. Aku bisa melunasi hutang-hutangku kepada rentenir dan orang-orang lainnya. Aku bisa membeli rumah yang layak untukku dan ibuku. Aku bisa memberi ibuku pengobatan yang baik dan membuatnya bahagia. Aku juga bisa menikahi gadis yang aku cintai dan memiliki anak-anak yang sholeh dan sholehah.

Aku merasa hidupku telah berubah menjadi lebih baik dan bahagia. Aku merasa Allah telah memberiku keajaiban yang luar biasa. Aku merasa Allah telah mengabulkan doa-doa dan harapan-harapanku.

Aku selalu bersyukur dan beristighfar kepada Allah atas semua nikmat dan karunia-Nya. Aku selalu berusaha untuk taat dan patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku selalu berusaha untuk berbuat baik kepada sesama manusia dan makhluk ciptaan Allah.

Aku sadar bahwa semua ini adalah hasil dari istighfar yang aku lakukan. Istighfar adalah kunci dari segala pintu kebaikan. Istighfar adalah obat dari segala penyakit hati. Istighfar adalah rahasia dari segala keajaiban.

Demikianlah cerpen tentang keajaiban istighfar ini, semoga cerpen ini bisa menginspirasi dan bermanfaat bagi Anda dan pembaca lainnya. Terima kasih atas perhatian dan kesempatan Anda.

Baca Juga | Cerpen Islami Jilid 3: Motivasi Sholat Dhuha

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url